SDLC ManTHeB

Terdapat Pada Kategori: Gagasan, Komputer, Opini, Tekno Satu komentar

Apa itu?

Software Development Life Cycle. Pada software engineering, SDLC merujuk pada suatu model dan metodology dalam membangun sebuah sistem komputer. (wikipedia, 14 april 2009).

Ada banyak model yang bisa diterapkan dalam SDLC, beberapa di antaranya adalah waterfall, rapid prototyping, dan spiral. Dalam setiap model, biasanya ada tingkatan / phase-phase yang harus dilewat, yang paling umum diantaranya adalah planning, analisys, design, implementation, maintenance.

SDLC model

Apa setiap membangun system itu harus menerapkan SDLC?

Sebetulnya nggak ada paksaan untuk menerapkan SDLC ini, tapi disarankan untuk menerapkan SDLC dengan salah satu model yang sesuai dengan keadaan development dan kebutuhan system.

Dengan diterapkannya SDLC ini diharapkan project yang dikerjakan dapat di pecah ke dalam beberapa tahap, dapat mendefinisikan kebutuhan user dengan cara yang lebih baik, membuat standarisasi pengembangan dan disain system, dapat menangani dan mentoleransi turn around staff. Dengan demikian, diharapkan system yang dihasilkan bisa lebih sempurna dan lebih sesuai dengan kebutuhan dan permintaan user.

Apa vendor-vendor sudah menggunakan metode ini?

Kalo itu gw kurang tau, yang gw bisa ambil contoh adalah di perusahaan dimana gw bekerja.

Disini, alhamdulillah sudah mulai mengembangkan system dengan metode SDLC pada setiap project. Kebetulan gw ada di team yang urus maintenance. Saya perhatikan sepertinya tahapan SDLC sudah lengkap, dari tahap planning, analisis, design, implementation, maintenance, hingga balik lagi ke planning, dan seterusnya.

Tapi sayang, entah apa yang salah, system yang dihasilkan sangat kurang memuaskan, bagi saya dan bagi user tentunya. Karena saya yang berada di fase maintenance, otomatis saya yang langsung terima komplain dari user.

Lalu apa yang Anda lakukan?

Hingga saat ini belum ada yang bisa gw lakuin. Gw cuman bisa nganalisa, gw tau ada yang salah, ok kita coba asumsiin SDLC adalah proses yang sama ketika kita akan memasak. Memasak? ya memasak masakan yang bisa kita santap setiap hari.

Kalo kita mau memasak, kita pasti punya planning mau masak apa, berapa lama, dsb.

Kita pasti punya analisis, yang mau menyantap makanan ini siapa? apa dia suka manis? apa dia diabetes? gula apa yang harus gw pake? berapa banyak? dsb.

Selanjutnya pasti design, kelapa di parut, wortel di potong-potong, kangkung di cuci, siapin gula, siapin minyak, dsb.

Selanjutnya adalah implementasi, panasin minyak, tumis kangkung, masuking daging, dsb.

Setelah itu masakan dihidangkan, disantap dan dinikmati. Pada saat ini, otomatis si tukang masak tadi sedang dalam masa maintenance, apakah masakannya enak, apakah masakannya cocok. Kalo kurang pas rasanya, saos sambal, kecap dan garam sudah siap dimeja makan.

Andai saja makanannya tidak bisa dimakan, pasti ada yang salah pada saat analisis atau saat design, atau juga implementasi. Bisa jadi karena alatnya, atau tukang masaknya yang belum lihai cara memasak dan memadukan rempah-rempah.

Dan pada saat itu, tidak mungkin si tukang masak mengambil kembali masakannya lalu memasak ulang!! yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan bahan, memotong, dan menumis lagi. Dan yang perlu dicatat adalah, hal itu baru bisa dilakukan ketika kembali ada pesanan lagi!!

SDLC dan Masakan, wowo menarik :> kalo system tidak bisa digunakan, lalu apa yang harus dilakukan?

Kebetulan, saya juga masih sama-sama belajar. Kalo memang terjadi hal seperti itu, pertama adalah menganalisa akar permasalahannya. Apakah kesalahan datang dari user, tools yang digunakan, atau tukang masak-nya :>

Kalo kesalahan datang dari user, gampang aja, tinggal gunakan Change Request.

Kalo kesalahan datang dari tools, tinggal dianalisa dan dicari work around-nya. Apakah harus gunakan alat lain, beli baru, dsb.

Kalo kesalahan datang dari tukang masaknya, berarti perlu adanya koreksi dari tukang masaknya, peningkatan keahlian yang bisa meningkatkan kualitas masakannya. Dan tentusaja bimbingan manajemen untuk memasak masakan yang memang dikuasai oleh tukang masaknya sendiri :> baru setelah itu, kembali menerapkan siklus SDLC dari mulai planning hingga mainenance kembali, dan jangan lupa untuk melibatkan team-team pada setiap tahapan :>

Bukan begitu meneer?

One Response to “SDLC ManTHeB”

  1. Terima kasih infonya
    :)

Leave a Reply