Basketball Cards ManTHeB
16th May 2011
Basketball Cards
it’s simple… never known before that actually i was pretty close to what people says about: “take a chance and create your own business”
CHAPTER 1 . 500 IDR
Ingat waktu itu saya cuma dikasih jajan sekitar 500 rupiah sehari. Kalo nggak salah, dulu ongkos angkot masih 100 rupiah untuk anak sekelas 6 SD. Jadi sisa uang setelah dikurangin untuk ongkos pulang-pergi dari rumah ke sekolah, saya pake buat beli kembang gula & pisang goreng
yes.. my favorit. Tapi kadang saya sengaja nggak jajan, duitnya saya kumpulin cuma untuk biar bisa beli Basketball Card, yang waktu itu lagi booming.
CHAPTER 2 . THE CARDS
Zaman saya waktu itu Basketball Card betul-betul sebuah koleksi yang menarik, dan harganya pun tentu tidak murah, kalo saya tidak salah, untuk membeli 1 set Basketball Card sekitar 2000 s/d 4000 rupiah. Uang yang amat sangat banyak untuk saya waktu itu. Dengan demikian, yang punya Basketball Card hanyala orang-orang kaya!
Sedikit demi sedikit akhirnya uang itu kekumpul juga. Kebetulan di sekolah kami ada penjual Basketball Cards, dan yang dijual pun bermacam-maca, ada yang 1 set, ada yang per 1 kartu (dan biasanya ini kartu yang rare) ada juga dengan gambling: dibuat semacam tarikan undian berupa benang wol, yang dikaitkan pada Basketball Card, ada yang dapat, ada juga yang tidak.
CHAPTER 3 . COLLECTION
Satu demi satu Basketball Cards itu saya kumpulin, dari mulai yang ecek-ecek.. yang lumayan, sampe yang rare pun saya punya. Hal itu saya lakuin cuma untuk biar bisa gaul dengan anak-anak orang kaya. *walaupun kenyataannya saya nggak pernah bisa gaul sama mereka*
Tidak jarang saya kena marah orang tua
ha ha ha.. sampe suatu saat kartu itu udah nggak jelas lagi ada berapa dan beterbaran di mana-mana. Mau di buang sayang, dikasihin orang apa lagi.. dijual?
CHAPTER 4 . DO IT!!
Ok, saya pikir ini saatnya untuk menjual koleksi saya.. saya mulai menjual dari kartu yang berlabel rare. Tawaran jelas saja dimulai ke anak-anak orang kaya itu.. hasilnya lumayan, ada yang terjual 1500, 2000 bahkan 3000 rupiah pun jadi
duit nih.. yeha!! i make some money
Selanjutnya, penjualan tahap ke dua.. dengan harapan semua kartu ini bisa ke jual, baik untuk kartu yang ecek-ecek maupun yang lumayan, saya-pun meniru cara penjual disekolah itu malkukan gambling-nya.. tapi dengan analisa dulu tentunya.
CHAPTER 5 . THE GOD OF GAMBLER
Beberapa hari saya perhatikan dan coba untuk gambling di penjual Basketball Cards. Maklum waktu itu saya belum mengerti bagaimana cara melakukan trik gambling itu.
Hari-pun berlalu dan saya akhirnya menemukan rumusnya.
- Siapkan Basketball Cards dan masukkan dalam plastik batu es kecil
- Siapkan benang wol, ada yang panjang dan ada yang pendek. Porsinya adalah 1 : 2 (1 yang panjang dan 2 yang pendek)
- Benang wol yang panjang, talikan dengan plastik batu es yang sudah diisi Basketball Cards. Campur antara kartu ecek-ecek dengan yang lumayan. Sisipkan 1 – 2 kartu yang rare (untuk menambah minat pembeli)
- Ikat ujung atas benang wol (sekitar 3cm dari ujung atas) dengan menggunakan kertas dan lem selotip. Benang wol yang pendek harus berada di dalam kertas pengikat (jadi kertas pengikatnya cukup lebar gitu)
- Pasarkan
*dikelas* ha ha ha..
Dengan hanya membayar 100 rupiah, setiap orang bisa mencoba peruntungan mereka untuk mendapatkan kartu
wow.. duit-pun semakin kencang malaju
penjual di sekolah pun sedikit iri dengan saya.. ha ha ha.. para anak-anak orang kaya itu lebih senang mencoba gambling di saya karena ada kemungkinan untuk mendapatkan kartu rare *ketimbang gambling di penjual sekolah itu*
CHAPTER 6 . END
Minggu demi minggu pun berlalu.. entah udah berapa lama saya jalankan bisnis ini. Sampe pada tahap “kena marah” orang tua lagi
ha ha ha.. behubung ini gambling, teguran keras pun melayang. Intinya adalah saya tidak diajarkan untuk berjudi..
Beruntung saat itu kartu sudah tinggal hitungan jari.. jadi, nggak ada masalah walopun saya harus hentikan “bisnis” ini
By The Way.. Eniway.. Busway.. ini adalah kali ke-2 saya melakukan “bisnis”, dan saya lakukan ini di sekolah
ha ha ha.. senang rasanya kalo saya ingat kembali masa-masa itu, tanpa ada niat apapun, keinginan dan kamauan itu datang sendiri dari diri saya.. mungkin ini bakat alamai kali yah…
stay tune.. di lain kesempatan, saya bakal ceritain pengalaman “berbisnis” yang pertama kali untuk saya
Siapapun bisa berbisnis.. tidak kenal tua, muda, kaya, miskin.. yang penting mempunyai impian, dorongan kemauan, dan ide